
Indonesia Siap Gaet Investasi Data Center Global
Isi cerita – Asia Tenggara tengah mengalami lonjakan investasi besar di sektor pusat data. Malaysia selama ini menjadi pusat perhatian global karena dianggap sebagai lokasi ideal bagi ekspansi teknologi digital. Kota Johor, khususnya, berkembang pesat menjadi magnet utama bagi raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, Google, hingga Alibaba. Hingga akhir 2024, sudah ada 12 data center beroperasi dengan kapasitas mencapai 369,9 megawatt. Tambahan 28 proyek baru diperkirakan akan menambah hampir 900 megawatt lagi.
“Baca Juga: Nintendo Bantah Klaim Politisi Soal Lobby Anti-AI di Jepang”
Faktor seperti harga lahan yang murah, ketersediaan listrik terjangkau, dan posisi geografis yang strategis membuat Malaysia unggul. Namun, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China kini mulai mengguncang dominasi Malaysia. Washington mendesak Kuala Lumpur agar tidak membuka akses bagi China terhadap chip AI buatan Amerika. Hal ini membuat posisi Malaysia semakin sulit.
Sebagai respons, Malaysia mulai menerapkan regulasi baru untuk mengontrol ekspor, transit, dan pengiriman ulang chip berperforma tinggi, termasuk dari Nvidia. Tujuan utamanya adalah meredakan tekanan dari Amerika Serikat. Namun, tindakan ini bisa berdampak negatif terhadap hubungan dagang dengan China, mitra utama dalam sektor teknologi.
Para analis menilai, kebijakan ini justru bisa merugikan Malaysia dalam jangka panjang. Ketatnya pengawasan dan ketidakpastian regulasi membuka peluang emas bagi negara tetangga, seperti Indonesia, untuk mengambil alih arus investasi. Situasi ini menciptakan momentum penting yang tidak boleh disia-siakan oleh Indonesia.
Di tengah dinamika geopolitik Malaysia, Indonesia mulai menunjukkan kesiapan menyambut peralihan investasi pusat data. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk telah mengambil langkah strategis dengan memperluas portofolio data center-nya. Perusahaan ini saat ini mengoperasikan 35 fasilitas, baik di dalam maupun luar negeri. Jenisnya bervariasi, dari hyperscale hingga skala kecil di kota-kota besar.
Honesti Basyir, Direktur Wholesale dan International Services Telkom, menyatakan bahwa pendapatan dari lini bisnis data center tumbuh hingga 30 persen setiap tahun. Telkom juga berambisi meningkatkan kontribusi segmen ini menjadi 10 persen dari total pendapatan perusahaan, mengurangi ketergantungan pada Telkomsel yang masih mendominasi pendapatan grup.
Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang cukup kuat. Pasar domestik sangat besar, kebutuhan teknologi berbasis AI dan cloud terus meningkat, dan tenaga kerja digital semakin berkembang. Letak geografis Indonesia juga strategis di jalur perdagangan internasional, memberikan nilai tambah dalam hal konektivitas.
“Baca Juga: Intel Bocorkan Arsitektur Baru CPU untuk Generasi 2026″
Namun, untuk benar-benar menarik investor global, Indonesia perlu memperkuat dua elemen kunci: keandalan infrastruktur energi dan regulasi yang mendukung. Ketersediaan listrik yang stabil dan harga kompetitif menjadi faktor penentu dalam keputusan investasi di sektor ini. Selain itu, kepastian hukum dan proses perizinan yang efisien akan menjadi daya tarik utama bagi investor asing.
Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah, kemitraan swasta, serta dukungan ekosistem teknologi yang tumbuh pesat, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat data regional berikutnya. Jika dikelola dengan tepat, pergeseran fokus dari Malaysia dapat menjadi batu loncatan bagi Indonesia dalam memimpin transformasi digital di Asia Tenggara.