
Sanae Takaichi Jadi Perdana Menteri Perempuan Pertama Jepang
Isi cerita – Pada Selasa, 21 Oktober 2025, anggota parlemen Jepang memilih Sanae Takaichi sebagai perdana menteri baru. Dengan terpilihnya Takaichi, ia menjadi perempuan pertama dalam sejarah modern Jepang yang memimpin negara tersebut. Takaichi, yang juga merupakan pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), mengalahkan pesaingnya, Yoshihiko Noda dari Partai Demokrat Konstitusional, dengan perolehan suara 237-149.
“Baca Juga: Lee Yi Kyung Dituduh Terlibat Chat Sensual, Agensi Bantah”
Pemilihan perdana menteri berlangsung dalam dua putaran. Dalam putaran pertama, Takaichi memperoleh mayoritas di Majelis Rendah, sementara di putaran kedua, ia juga terpilih oleh anggota Majelis Tinggi dengan perolehan suara 125-46, meskipun hanya kurang satu suara dari mayoritas. Terpilihnya Takaichi menandakan sebuah momen bersejarah dalam politik Jepang, di mana perempuan akhirnya memimpin negara dengan tantangan besar.
Sanae Takaichi kini memimpin koalisi pemerintahan yang terdiri dari LDP dan Partai Inovasi Jepang (Ishin). Namun, pemerintahannya menghadapi sejumlah tantangan besar. Salah satunya adalah kurangnya mayoritas di parlemen setelah LDP mengalami kekalahan signifikan dalam pemilu terakhir. Kekalahan tersebut dipicu oleh skandal korupsi yang melibatkan anggota partai dan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup yang terus meroket.
Sebagai anak didik mendiang Perdana Menteri Shinzo Abe, Takaichi dikenal sebagai politikus konservatif garis keras. Ia mendukung penguatan militer Jepang, kebijakan imigrasi yang lebih ketat, dan revisi konstitusi pasifis Jepang. Pandangan ini kemungkinan akan menimbulkan tantangan internasional, terutama di kawasan Asia-Pasifik, di mana hubungan Jepang dengan negara tetangga seringkali sensitif. Revisi konstitusi ini berpotensi memperburuk ketegangan dengan negara-negara seperti China dan Korea Selatan, yang masih memendam sejarah kelam masa lalu. Langkah Takaichi juga bisa memperburuk dinamika regional terkait keamanan dan stabilitas, serta meningkatkan ketidakpercayaan terhadap Jepang di mata negara-negara tetangga.
Sanae Takaichi akan segera menghadapi ujian pertama dalam kepemimpinannya, yakni kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump dijadwalkan mengunjungi Jepang pada awal pekan depan, dan kunjungan ini berpotensi membawa sejumlah tantangan diplomatik. Takaichi harus menghadapi isu-isu domestik yang sulit sambil menjaga hubungan yang kuat dengan AS, terutama terkait kebijakan ekonomi dan militer.
“Baca Juga: Trump Izinkan CIA Tangkap Maduro, Operasi Dimulai di Venezuela”
Meski terpilih dalam situasi yang sulit, Takaichi memiliki potensi untuk membawa perubahan signifikan dalam politik Jepang. Namun, ia juga akan membutuhkan dukungan luas dari parlemen untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan kontroversialnya. Pemerintahannya akan diuji oleh ketidakpastian politik dan sosial yang ada, sementara dunia luar memperhatikan langkah-langkah Jepang dalam menghadapi tantangan global di era baru ini.