
Rusia Garap Game Tandingan Call of Duty
Isi cerita – Pemerintah Rusia dilaporkan tengah serius mengembangkan game penembak kelas atas untuk menyaingi Call of Duty. Langkah ini muncul setelah Rusia merasa kerap digambarkan sebagai pihak antagonis dalam berbagai judul Call of Duty. Setelah sebelumnya wacana pengembangan konsol tandingan PlayStation dan Xbox mencuat, kini fokus beralih ke industri game. Proyek tersebut tidak lagi sebatas gagasan. Pemerintah Rusia disebut telah memberikan persetujuan resmi melalui kementerian terkait. Dukungan tersebut mencakup pendanaan berskala besar untuk memastikan proyek dapat berjalan serius.
“Baca Juga: Clair Obscur: Expedition 33 Dominasi Nominasi Game Awards”
Berdasarkan laporan kantor berita Gazeta.Ru, kementerian terkait di Rusia menyetujui anggaran sebesar 10 miliar rubel. Nilai tersebut setara sekitar 124 juta dolar Amerika Serikat. Anggaran ini menjadikan proyek tersebut sebagai pengembangan game termahal dalam sejarah Rusia. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung seluruh proses produksi. Mulai dari pengembangan teknologi, pembuatan aset, hingga pemasaran global. Besarnya anggaran menunjukkan keseriusan pemerintah dalam proyek ini. Rusia ingin menghadirkan game dengan kualitas setara standar internasional.
Secara teknis, Rusia dinilai memiliki sumber daya manusia yang mumpuni di bidang pengembangan game. Sejumlah studio lokal disebut mampu menghasilkan kualitas visual dan mekanik gameplay setara Call of Duty. Kendala utama selama ini adalah keterbatasan pendanaan dan akses pasar global. Dengan suntikan dana negara, hambatan tersebut dinilai dapat teratasi. Jika proyek berjalan sesuai rencana, Rusia berpeluang melahirkan pesaing serius di genre FPS. Namun, realisasi proyek tetap bergantung pada manajemen produksi dan arah desain. Keberhasilan juga ditentukan oleh penerimaan pasar internasional.
Motivasi utama proyek ini disebut berasal dari ranah politik. Parlemen Rusia sebelumnya meminta penyelidikan terhadap Call of Duty. Game besutan Activision itu dituding mengandung unsur Russophobia. Rusia dinilai hampir selalu digambarkan sebagai pihak jahat dalam alur cerita. Narasi tersebut dianggap merugikan citra negara di mata publik global. Pemerintah Rusia memandang industri game sebagai alat narasi yang berpengaruh besar. Oleh karena itu, mereka ingin menghadirkan sudut pandang alternatif melalui game buatan sendiri.
“Baca Juga: RedMagic 11 Air Hadir Lebih Tipis dengan Pendingin Kipas”
Jika game tandingan Call of Duty ini benar-benar terwujud, arah narasi diperkirakan akan berbeda drastis. Rusia kemungkinan akan memposisikan diri sebagai protagonis utama. Sebaliknya, negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Ukraina berpotensi digambarkan sebagai musuh. Pendekatan ini mencerminkan perspektif geopolitik Rusia saat ini. Meski berisiko memicu kontroversi global, pemerintah Rusia tampak siap dengan konsekuensinya. Proyek ini dinilai sebagai upaya memperkuat kedaulatan narasi digital. Industri game pun kembali menunjukkan perannya sebagai medium budaya dan politik.