
Purbaya Effect Dorong Saham Bank BUMN Naik Signifikan
Isi cerita – Pemerintah resmi memindahkan dana kas negara senilai Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke lima bank milik negara (Himbara). Langkah ini diumumkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI dan langsung memicu lonjakan harga saham perbankan BUMN. Kebijakan ini dinamai warganet sebagai “Purbaya Effect”, mencerminkan respons pasar yang sangat positif.
“Baca Juga: Elon Musk Berpotensi Jadi Orang Pertama dengan Kekayaan USD 1 T”
Dari total dana Rp425 triliun yang sebelumnya mengendap di Bank Indonesia, pemerintah memindahkan Rp200 triliun ke lima bank Himbara. Dana ditempatkan dalam bentuk deposit on call, yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Berikut alokasinya:
Bank Mandiri (BMRI): Rp55 triliun
Bank Negara Indonesia (BBNI): Rp55 triliun
Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Rp55 triliun
Bank Tabungan Negara (BBTN): Rp25 triliun
Bank Syariah Indonesia (BRIS): Rp10 triliun
Porsi BRIS dan BBTN lebih kecil karena skala bisnis yang relatif terbatas. BRIS dipilih khusus karena memiliki akses eksklusif di wilayah Aceh, yang menjalankan sistem keuangan syariah secara penuh.
Dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK), ditegaskan bahwa dana ini tidak boleh digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) atau SRBI. Pemerintah mengarahkan agar likuiditas tambahan ini disalurkan langsung dalam bentuk kredit ke sektor riil.
“Ini bukan pinjaman ke bank, tapi tambahan likuiditas. Bank pasti akan menyalurkan dana ini menjadi kredit agar ekonomi bergerak,” tegas Purbaya dalam rapat tersebut.
Langkah ini diambil untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi lewat perbankan, terutama mendukung pembiayaan UMKM, infrastruktur, dan sektor produktif lainnya.
Kabar masuknya dana pemerintah langsung mendorong saham bank pelat merah melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut data pergerakan harga saham pada hari pengumuman:
BBNI: naik 6,1% ke Rp4.350/saham
BBTN: naik 5,88% ke Rp1.350/saham
BBRI: naik 5,68% ke Rp4.100/saham
BRIS: naik 4,81% ke Rp2.620/saham
BMRI: naik 2,72% ke Rp4.520/saham
Dalam sepekan, BBNI mencatat kenaikan 7,66%, BBRI naik 6,41%, dan BBTN menguat 4,06%. Efek domino juga terlihat pada indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menembus level 7.835, naik lebih dari 1% pada Jumat, 12 September 2025.
Masuknya dana pemerintah dipandang sebagai sinyal positif oleh pelaku pasar global. Menurut Phintraco Sekuritas, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) bank Himbara diperkirakan turun dari 88,2% menjadi 84,2%. Penurunan ini mencerminkan penguatan likuiditas yang membuka ruang ekspansi kredit lebih besar.
Goldman Sachs merespons dengan menaikkan rating saham BBRI, BMRI, dan BBNI dari neutral menjadi buy. Sementara Bloomberg memproyeksikan BMRI memiliki potensi upside hingga 31,6% dengan target harga Rp5.922 per saham.
Bloomberg Intelligence juga menilai bahwa BBRI akan menjadi bank yang paling diuntungkan karena memiliki LDR yang tinggi, menandakan kapasitas menyalurkan kredit lebih besar dibanding industri.
“Baca Juga: Status Bloodborne Remake Masih Abu-abu, Peluncuran Belum Jelas”
Langkah strategis ini tidak hanya berdampak pada kinerja saham jangka pendek, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian secara lebih luas. Tambahan likuiditas bisa mempercepat penyaluran kredit ke sektor riil, yang selama ini menjadi tantangan akibat ketatnya likuiditas dan rendahnya permintaan pembiayaan.
Apabila dana ini benar-benar disalurkan secara produktif, bank BUMN bisa menjadi lokomotif pemulihan ekonomi nasional. Investor, pelaku usaha, dan regulator kini mengamati sejauh mana bank Himbara dapat mengelola dana ini untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.