
Mantan Presiden Yaman Abd-Rabbu Hadi Tutup Usia
Isi cerita – Mantan Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, dilaporkan meninggal dunia pada usia 80 tahun di Riyadh, Arab Saudi. Kabar duka tersebut diumumkan oleh televisi pemerintah Yaman pada Kamis waktu setempat dan menandai berakhirnya perjalanan politik salah satu tokoh penting dalam sejarah modern Yaman.
Hadi dikenal sebagai presiden yang diakui secara internasional selama periode paling sulit dalam sejarah negara tersebut. Masa kepemimpinannya berlangsung ketika Yaman menghadapi konflik berkepanjangan, krisis kemanusiaan, serta perpecahan politik yang mendalam.
“Baca Juga: Gamer Hadapi Ancaman Malware dari Scam GTA 6″
Selama bertahun-tahun, Hadi memimpin pemerintahan dari pengasingan setelah terpaksa meninggalkan negaranya akibat perang saudara. Namanya menjadi simbol pemerintahan yang mendapat pengakuan internasional di tengah perebutan kekuasaan yang melibatkan berbagai kelompok bersenjata dan aktor regional.
Pemerintah Yaman mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Selama periode tersebut, bendera negara dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk penghormatan kepada mantan kepala negara tersebut.
Ucapan belasungkawa datang dari berbagai pejabat pemerintah Yaman. Kepala Dewan Kepemimpinan Presiden, Rashad al-Alimi, mengenang Hadi sebagai pemimpin yang memperjuangkan negara yang adil dan menghormati martabat rakyatnya.
Menurut Alimi, Hadi meyakini hak rakyat Yaman untuk hidup dalam sistem yang menjunjung kebebasan dan keadilan. Ia juga menyebut mantan presiden tersebut sebagai tokoh yang berupaya mempertahankan sistem republik di tengah berbagai tantangan politik dan keamanan.
Pernyataan itu mencerminkan posisi penting Hadi dalam struktur pemerintahan yang diakui secara internasional. Meskipun banyak menghadapi kritik selama masa jabatannya, ia tetap dianggap sebagai figur sentral dalam upaya mempertahankan legitimasi pemerintah Yaman di mata dunia.
Penghormatan dari pemerintah menunjukkan bahwa warisan politik Hadi akan tetap menjadi bagian dari perdebatan mengenai masa depan negara yang masih berjuang keluar dari konflik berkepanjangan.
Karier politik Hadi berlangsung selama beberapa dekade. Sebelum menjadi presiden, ia menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemerintahan Ali Abdullah Saleh. Ia mendampingi Saleh dalam berbagai periode penting sebelum akhirnya mengambil alih kepemimpinan negara.
Hadi menjadi presiden pada tahun 2012 setelah Saleh mengakhiri kekuasaannya yang berlangsung selama 33 tahun. Pergantian kepemimpinan itu terjadi di tengah gelombang protes yang dikenal sebagai Arab Spring.
Sebagai seorang perwira militer karier, Hadi maju sebagai satu-satunya kandidat dalam pemilihan presiden saat itu. Ia memenangkan pemungutan suara dengan perolehan 99,8 persen suara dan memulai masa jabatan yang diharapkan mampu membawa stabilitas bagi negara tersebut.
Namun, harapan tersebut segera menghadapi berbagai tantangan. Pemerintahannya dibayangi ketegangan politik, konflik regional, serta meningkatnya pengaruh kelompok Houthi yang kemudian menjadi aktor utama dalam perang saudara Yaman.
Masa kepresidenan Hadi diwarnai oleh meningkatnya konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran. Ketegangan mencapai puncaknya ketika kelompok tersebut berhasil menguasai ibu kota Sanaa pada tahun 2014.
Pada awal 2015, Houthi menempatkan Hadi dalam tahanan rumah. Situasi tersebut memaksanya mencari cara untuk melarikan diri. Pada Februari tahun yang sama, ia berhasil keluar dari tahanan dan kemudian meninggalkan Yaman menuju Arab Saudi.
Kepergiannya menandai dimulainya periode panjang pengasingan politik. Dari Riyadh, Hadi tetap memimpin pemerintahan yang mendapat pengakuan internasional, sementara konflik di dalam negeri terus berlangsung.
Perang saudara kemudian berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Konflik tersebut menyebabkan kehancuran infrastruktur, krisis pangan, dan salah satu bencana kemanusiaan terbesar di dunia modern.
“Baca Juga: Steam Deck Kini Lebih Mahal Setelah Kenaikan Harga”
Pada April 2022, Hadi menyerahkan kewenangannya kepada Dewan Kepemimpinan Presiden yang baru dibentuk. Langkah tersebut dilakukan ketika Yaman memasuki periode gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB.
Meskipun gencatan senjata membantu menurunkan intensitas pertempuran di sejumlah wilayah, negara itu tetap terpecah. Wilayah utara masih berada di bawah kendali Houthi, sementara pemerintah mengelola sebagian besar wilayah selatan bersama berbagai kelompok sekutu.
Perang yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat Yaman. Ratusan ribu orang dilaporkan meninggal akibat penyebab langsung maupun tidak langsung dari konflik. Selain itu, jutaan warga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Warisan politik Hadi akan terus menjadi bagian dari sejarah Yaman modern. Bagi para pendukungnya, ia adalah simbol legitimasi pemerintahan republik di tengah perang saudara. Namun bagi para pengkritiknya, masa pemerintahannya juga dikaitkan dengan berbagai persoalan politik yang memperdalam perpecahan nasional.
Hadi meninggalkan seorang istri, Hala, serta enam anak. Kepergiannya menutup satu bab penting dalam perjalanan politik Yaman, sementara negara tersebut masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai perdamaian dan stabilitas jangka panjang.