
China Tingkatkan Jejak di Afrika, Taiwan Hadapi Tantangan
Isi cerita – Kunjungan Presiden Taiwan Lai Ching-te ke Eswatini pada awal bulan ini kembali menyoroti persaingan diplomatik antara Taiwan dan China di Afrika. Lawatan tersebut menarik perhatian karena berlangsung dalam situasi yang tidak biasa dan diwarnai berbagai hambatan perjalanan.
Menurut sejumlah laporan, beberapa negara di kawasan Samudra Hindia, termasuk Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar, mencabut izin penerbangan bagi pesawat yang membawa Lai. Keputusan tersebut diduga berkaitan dengan tekanan diplomatik dari China terhadap negara-negara yang berhubungan dengan Taiwan.
Akibat perkembangan tersebut, rencana perjalanan Lai harus diubah. Presiden Taiwan akhirnya menggunakan pesawat pribadi milik Raja Mswati III untuk melanjutkan kunjungannya ke Eswatini.
“Baca Juga: Iran Gempur Target AS, Situasi Selat Hormuz Kian Tegang”
Peristiwa itu memicu reaksi keras dari Beijing. Pemerintah China mengecam keputusan Eswatini yang menerima kunjungan Lai dan kembali menegaskan posisinya terkait kebijakan “Satu China”.
Insiden tersebut menjadi contoh terbaru bagaimana persaingan geopolitik antara Beijing dan Taipei semakin terlihat di berbagai kawasan dunia, termasuk Afrika.
Eswatini saat ini merupakan satu-satunya negara di Afrika yang masih memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Dalam satu dekade terakhir, sejumlah negara Afrika telah memutuskan hubungan dengan Taipei dan beralih mengakui Beijing.
Perubahan tersebut terjadi seiring meningkatnya investasi, kerja sama ekonomi, dan pembangunan infrastruktur yang didukung China di berbagai negara Afrika. Melalui pendekatan tersebut, Beijing berhasil memperluas pengaruh diplomatiknya di benua tersebut.
Saat ini Taiwan hanya memiliki hubungan diplomatik formal dengan 12 negara di seluruh dunia. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
Tekanan terhadap Eswatini juga disebut semakin meningkat. Salah satu contoh yang banyak dibahas adalah keputusan China mengecualikan negara tersebut dari kebijakan perdagangan bebas tarif yang diberikan kepada sejumlah negara Afrika.
Secara ekonomi, dampak keputusan tersebut mungkin terbatas bagi China. Namun secara simbolis, langkah itu dianggap sebagai pesan politik yang jelas kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dengan Taiwan.
Kebijakan tersebut memperkuat pandangan bahwa akses terhadap pasar China dan berbagai keuntungan ekonomi sering kali dikaitkan dengan dukungan terhadap kebijakan “Satu China”.
Perdebatan mengenai pengaruh China di Afrika semakin menguat setelah muncul laporan terkait penundaan konferensi RightsCon di Zambia. Acara tersebut dikenal sebagai salah satu konferensi terbesar di dunia yang membahas hak digital dan kebebasan internet.
Konferensi itu awalnya dijadwalkan berlangsung pada April. Namun penyelenggara akhirnya menunda pelaksanaannya setelah muncul berbagai persoalan terkait partisipasi peserta.
Beberapa laporan menyebut adanya keberatan terhadap kehadiran perwakilan masyarakat sipil Taiwan dalam acara tersebut. Selain itu, sejumlah topik yang berkaitan dengan pengawasan digital dan sensor juga disebut menjadi perhatian.
RightsCon tidak berfokus pada isu Taiwan. Agenda konferensi mencakup pembahasan mengenai tata kelola digital, keamanan siber, kebebasan berekspresi, serta perkembangan teknologi pengawasan.
Karena itu, isu yang muncul dalam penyelenggaraan acara tersebut dinilai lebih luas daripada sekadar hubungan antara China dan Taiwan. Perkembangan itu menunjukkan bagaimana persaingan geopolitik dapat memengaruhi ruang diskusi internasional dan aktivitas masyarakat sipil.
Apabila tuduhan tersebut benar, maka pengaruh yang dimainkan tidak hanya menyentuh hubungan antarnegara, tetapi juga ruang publik yang lebih luas.
Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai kehadiran China di Afrika umumnya berfokus pada aspek ekonomi. Topik seperti pembangunan infrastruktur, perdagangan, investasi, dan pembiayaan proyek menjadi perhatian utama banyak pengamat.
Namun sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan adanya perubahan pola pengaruh tersebut. Pengaruh China kini dinilai semakin mencakup aspek politik, diplomatik, dan keamanan.
China masih menjadi mitra dagang utama bagi banyak negara Afrika. Hubungan ekonomi antara kedua pihak terus berkembang meskipun masih terdapat ketidakseimbangan perdagangan yang cukup besar.
Laporan yang dikutip dalam berbagai kajian menunjukkan bahwa defisit perdagangan Afrika terhadap China mencapai sekitar 102 miliar dolar AS pada tahun lalu. Angka tersebut menggambarkan besarnya posisi ekonomi Beijing di kawasan.
Selain sektor perdagangan, China juga terus memperluas kerja sama keamanan. Program pelatihan militer, operasi penjaga perdamaian, dan kerja sama maritim menjadi bagian dari strategi yang lebih luas.
China saat ini merupakan salah satu penyumbang terbesar pendanaan bagi operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Beijing juga memiliki pangkalan logistik militer di Djibouti yang menjadi fasilitas militer luar negeri pertamanya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kepentingan China di Afrika tidak lagi terbatas pada aspek ekonomi semata.
“Baca Juga: Microsoft Umumkan Harga Surface Laptop 8 dan Pro 12″
Di tengah tekanan diplomatik dan ekonomi yang meningkat, Eswatini tetap mempertahankan hubungannya dengan Taiwan. Pemerintah kerajaan tersebut secara terbuka menolak berbagai tekanan yang datang dari Beijing.
Setelah kritik dilontarkan China terkait kunjungan Lai Ching-te, pemerintah Eswatini menegaskan bahwa keputusan kedaulatannya harus dihormati oleh semua pihak. Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap tegas dalam mempertahankan kebijakan luar negeri yang telah lama dijalankan.
Langkah Eswatini menunjukkan bahwa negara-negara kecil masih memiliki ruang untuk menentukan arah kebijakan mereka sendiri. Meskipun menghadapi tekanan dari kekuatan besar, keputusan diplomatik tetap berada di tangan pemerintah masing-masing negara.
Namun sikap tersebut juga membawa konsekuensi tertentu. Negara yang mengambil posisi berbeda dari preferensi China berpotensi menghadapi tekanan ekonomi maupun diplomatik yang lebih besar.
Kunjungan Presiden Taiwan ke Eswatini menjadi gambaran nyata mengenai persaingan pengaruh yang semakin intensif di Afrika. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persaingan antara China dan Taiwan tidak hanya berlangsung di tingkat diplomatik, tetapi juga memengaruhi hubungan ekonomi, forum internasional, dan kebijakan politik berbagai negara.
Dengan meningkatnya peran China di Afrika, negara-negara di kawasan tersebut kemungkinan akan terus menghadapi pilihan yang semakin kompleks dalam menentukan posisi mereka di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.