
Donald Trump Hapus Temuan Bahaya Gas Rumah Kaca
Isi cerita – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mencabut dasar ilmiah kebijakan iklim federal pada Februari 2026. Kebijakan tersebut selama ini menyatakan emisi gas rumah kaca membahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia. Keputusan ini menjadi perubahan besar arah kebijakan lingkungan Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai akan mempersulit pemerintahan di masa depan dalam mengatur bahan bakar fosil. Pencabutan ini berdampak langsung pada penerapan Undang-Undang Udara Bersih atau Clean Air Act. Selama lebih dari satu dekade, kebijakan iklim AS bergantung pada dasar ilmiah tersebut. Banyak regulasi emisi kendaraan dan industri disusun berdasarkan temuan itu. Dengan dicabutnya fondasi ilmiah tersebut, ruang intervensi pemerintah menjadi jauh lebih terbatas. Keputusan ini langsung memicu kontroversi luas di dalam dan luar Amerika Serikat.
“Baca Juga: GPT-4o Dihapus, OpenAI Perbarui Model ChatGPT”
Pada 12 Februari 2026, United States Environmental Protection Agency memfinalisasi pencabutan Endangerment Finding. Temuan ini pertama kali ditetapkan pada 2009 di era Presiden Barack Obama. EPA saat itu meninjau bukti ilmiah secara komprehensif. Hasilnya menyimpulkan emisi dari bahan bakar fosil membahayakan kesehatan manusia. Endangerment Finding menjadi fondasi utama regulasi iklim federal. Regulasi tersebut mencakup standar emisi kendaraan dan pembatasan polusi industri. Dengan dasar itu, pemerintah memiliki legitimasi hukum kuat untuk mengendalikan gas rumah kaca. Kini, temuan tersebut secara resmi tidak lagi berlaku. EPA di bawah pemerintahan Trump menyatakan keputusan ini sebagai deregulasi besar. Trump bahkan menyebutnya sebagai deregulasi terbesar dalam sejarah Amerika. Langkah ini secara efektif melemahkan dasar hukum kebijakan iklim nasional.
Donald Trump menyatakan regulasi iklim selama ini menghambat industri otomotif Amerika. Ia menilai aturan emisi membatasi inovasi dan pilihan konsumen. Menurut Trump, pencabutan kebijakan tersebut akan menghadirkan mobil yang lebih baik dan lebih murah. Ia mengklaim kendaraan akan lebih mudah dinyalakan dan memiliki performa lebih baik. Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut perubahan iklim sebagai tipuan. Klaim tersebut kembali diulang tanpa menyertakan bukti ilmiah pendukung. Trump menegaskan deregulasi akan memangkas biaya regulasi hingga 1,3 triliun dolar AS. Namun, klaim tersebut dipertanyakan banyak pengamat independen. Mereka menilai manfaat ekonomi tidak akan dirasakan secara merata. Kritik menyebut keuntungan utama justru akan dinikmati industri energi fosil besar. Dampak jangka panjang bagi masyarakat luas dinilai berpotensi merugikan.
Keputusan ini menuai kecaman keras dari komunitas ilmiah dan organisasi lingkungan. Presiden dan CEO American Lung Association, Harold Wimmer, menyebutnya hari kelam bagi sains dan kesehatan. Menurut Wimmer, perubahan iklim secara langsung merusak kesehatan manusia. Ia menilai pembatalan aturan kendaraan bersih akan meningkatkan polusi udara. Dampaknya mencakup peningkatan penyakit pernapasan dan risiko kesehatan paru-paru. Direktur Riset Greenpeace USA, Tim Donaghy, menegaskan hukum fisika tidak tunduk pada politik. Ia menyatakan pembakaran bahan bakar fosil akan meningkatkan bahaya bagi masyarakat. Donaghy menilai kebijakan ini menguntungkan perusahaan minyak besar. Namun, masyarakat luas disebut akan menanggung dampak kesehatan dan ekonomi. Kritik juga datang dari ilmuwan iklim yang menilai pemerintah mengabaikan bukti ilmiah kuat. Langkah ini dianggap melemahkan pengambilan keputusan berbasis sains.
“Baca Juga: Power Bank 165W Resmi Diperkenalkan Dreame”
Direktur AS World Resources Institute, David Widawsky, menilai keputusan ini berbahaya bagi masyarakat. Ia menyebut pencabutan Endangerment Finding mengirim pesan pemerintah tidak peduli. Menurut Widawsky, musim panas yang semakin panas meningkatkan tagihan energi dan kunjungan gawat darurat. Cuaca ekstrem juga mendorong kenaikan premi asuransi rumah. Banyak keluarga dinilai akan semakin sulit memiliki rumah. Petani juga berisiko mengalami gagal panen dan kematian ternak. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga bahan pangan. Widawsky menegaskan kehidupan warga AS akan menjadi lebih mahal dan tidak pasti. Para ilmuwan menilai pembongkaran dasar ilmiah ini melemahkan respons nasional terhadap krisis iklim. Dampaknya tidak hanya dirasakan Amerika Serikat, tetapi juga ekonomi dan lingkungan global.