
Harga PSU dan Cooler Diprediksi Naik Menyusul RAM
Isi cerita – Kenaikan harga komponen PC kembali menjadi perhatian serius di awal 2026. Setelah sebelumnya RAM dan media penyimpanan mengalami lonjakan harga, kini giliran power supply unit dan pendingin CPU yang menunjukkan tren serupa. Tekanan biaya produksi di hulu industri disebut menjadi pemicu utama situasi ini. Produsen komponen menghadapi kenaikan harga bahan mentah yang semakin sulit dikendalikan. Dampaknya mulai terasa hingga ke tingkat konsumen. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa biaya merakit atau meningkatkan PC akan semakin mahal. Para pelaku industri menilai tren kenaikan ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Dalam beberapa bulan ke depan, pasar diperkirakan masih akan bergerak naik.
“Baca Juga: Modder Ciptakan DDR5 32GB dari Chip RAM Laptop”
Kenaikan harga komponen PC sebenarnya sudah terjadi sejak tahun lalu. RAM dan SSD menjadi dua komponen yang paling awal terdampak. Penyebab utamanya adalah lonjakan kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan. Pusat data berskala besar menyerap pasokan memori dan storage dalam jumlah masif. Permintaan tinggi tersebut membuat pasokan untuk pasar konsumen menjadi lebih terbatas. Ketika ketersediaan menurun, harga pun terdorong naik secara bertahap. Produsen memprioritaskan kontrak besar dengan sektor data center. Akibatnya, pasar ritel harus menerima harga yang lebih mahal. Tren ini kemudian menciptakan efek berantai ke komponen lain. PSU dan pendingin CPU kini mulai merasakan tekanan yang sama.
Produsen komponen asal China mengungkapkan bahwa biaya bahan baku mengalami kenaikan signifikan. Material seperti tembaga, perak, dan timah mencatat kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Ketiga material tersebut merupakan elemen penting dalam pembuatan power supply. Tembaga digunakan untuk kabel dan transformator. Perak berperan dalam konduktivitas dan efisiensi daya. Timah dibutuhkan dalam proses penyolderan komponen elektronik. Ketika harga bahan mentah naik, biaya produksi otomatis ikut terdongkrak. Produsen menghadapi margin keuntungan yang semakin tertekan. Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, penyesuaian harga menjadi pilihan yang sulit dihindari. Tekanan ini dirasakan hampir di seluruh rantai pasok.
Tidak hanya PSU, pendingin CPU juga mulai menunjukkan kenaikan harga. Heatsink dan cooler sangat bergantung pada material logam. Tembaga dan aluminium menjadi komponen utama dalam sistem pendingin modern. Kenaikan harga logam membuat biaya pembuatan heatsink meningkat secara langsung. Selain itu, ongkos produksi kipas dan sistem distribusi panas juga ikut naik. Produsen melaporkan bahwa sejak awal Januari mereka tidak lagi menerima pesanan dengan harga lama. Seluruh transaksi kini menggunakan skema harga terbaru. Hal ini menandakan bahwa kenaikan harga bukan sekadar rencana, tetapi sudah mulai diterapkan. Pendingin CPU diperkirakan mengalami kenaikan harga sekitar enam hingga delapan persen. Angka ini dinilai cukup signifikan untuk produk yang sebelumnya relatif stabil.
“Baca Juga: Anti-Cheat ARC Raiders Disorot Usai Hukuman Keliru”
Bagi pengguna PC, kondisi ini tentu patut menjadi perhatian serius. Kenaikan harga PSU diperkirakan berada di kisaran enam hingga sepuluh persen dalam beberapa bulan ke depan. Jika digabung dengan kenaikan pendingin CPU, total biaya rakit PC bisa melonjak cukup besar. Pengguna yang berencana melakukan upgrade disarankan mempertimbangkan waktu pembelian dengan cermat. Membeli PSU dan cooler lebih awal dapat menjadi langkah strategis. Pasalnya, tren harga saat ini lebih condong ke arah kenaikan berkelanjutan. Belum ada indikasi penurunan harga dalam waktu dekat. Selama permintaan industri dan harga bahan baku tetap tinggi, tekanan biaya akan terus berlanjut. Situasi ini menunjukkan bahwa pasar komponen PC masih berada dalam fase tidak stabil. Konsumen perlu lebih selektif dan terencana dalam membelanjakan anggaran.