
Trump Temui Xi Jinping Saat Konflik Iran Memanas
Isi cerita – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 13 hingga 15 Mei 2026. Kunjungan tersebut dilakukan atas undangan Presiden China Xi Jinping. Pengumuman resmi disampaikan Kementerian Luar Negeri China pada Senin, 11 Mei 2026.
Kunjungan ini menjadi lawatan pertama presiden Amerika Serikat ke China dalam sembilan tahun terakhir. Pertemuan kedua pemimpin berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan hubungan bilateral kedua negara. Perselisihan perdagangan dan isu keamanan masih menjadi tantangan utama hubungan Washington dan Beijing.
“Baca Juga: Netanyahu Sebut Konflik Iran Masih Berlanjut”
Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu malam, 13 Mei 2026. Presiden AS menggambarkan perjalanan tersebut sebagai kunjungan yang sangat bermakna secara simbolis. Pemerintah China juga menyiapkan agenda kenegaraan lengkap selama kunjungan berlangsung.
Pada Kamis, 14 Mei 2026, Trump akan menghadiri upacara penyambutan resmi bersama Xi Jinping. Agenda itu dilanjutkan dengan pertemuan bilateral antara kedua pemimpin negara. Trump juga dijadwalkan mengunjungi Kuil Surga dan menghadiri jamuan makan kenegaraan.
Kunjungan Trump berlangsung di tengah situasi internasional yang masih belum stabil. Salah satu isu utama adalah gencatan senjata rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan itu berdampak besar terhadap keamanan dan ekonomi global.
Blokade ganda di Selat Hormuz turut memperburuk situasi pasar energi dunia. Jalur laut strategis tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak internasional. Gangguan di kawasan itu menyebabkan kenaikan harga energi global dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi internasional. Negara-negara besar kini berupaya menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah demi mencegah gangguan lebih besar. Situasi itu diperkirakan menjadi pembahasan penting dalam pertemuan Trump dan Xi.
China sendiri memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik yang cukup dekat dengan Iran. Karena itu, Washington diperkirakan akan meminta Beijing membantu mendorong penyelesaian konflik. Pemerintah AS berharap China dapat memainkan peran diplomatik lebih aktif terhadap Teheran.
Menurut pejabat Amerika Serikat, Trump dan Xi Jinping akan membahas sejumlah isu strategis selama pertemuan berlangsung. Topik utama mencakup konflik Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, dan senjata nuklir. Agenda tersebut menunjukkan luasnya tantangan hubungan kedua negara.
Trump diperkirakan akan meminta dukungan China untuk mendorong Iran mencapai kesepakatan baru dengan Amerika Serikat. Pemerintah AS ingin memastikan ketegangan di Timur Tengah tidak kembali meningkat dalam waktu dekat. Posisi China dianggap penting karena hubungannya dengan pemerintah Iran.
Di sisi lain, Xi Jinping kemungkinan akan menyoroti isu Taiwan selama pertemuan bilateral tersebut. Beijing selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China. Pemerintah China juga menentang dukungan militer dan penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan.
Selain isu geopolitik, kedua pemimpin diperkirakan membahas perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Persaingan teknologi menjadi salah satu fokus utama hubungan Washington dan Beijing dalam beberapa tahun terakhir. Kedua negara terus berlomba memperkuat posisi mereka di sektor teknologi global.
Amerika Serikat dan China juga diperkirakan membahas kerja sama perdagangan serta investasi bilateral. Para pejabat menyebut kedua negara kemungkinan menyepakati pembentukan forum ekonomi baru. Forum tersebut bertujuan memfasilitasi hubungan perdagangan dan investasi bersama.
China disebut berpotensi mengumumkan pembelian produk Amerika Serikat dalam beberapa sektor strategis. Produk yang dibahas meliputi pesawat Boeing, sektor pertanian, dan energi. Langkah itu dinilai dapat membantu meredakan ketegangan dagang kedua negara.
Hubungan perdagangan AS dan China sebelumnya sempat mengalami tekanan akibat perang tarif. Washington mengenakan tarif tambahan terhadap sejumlah produk asal China. Sebagai tanggapan, Beijing mengancam membatasi pasokan logam tanah jarang ke pasar global.
Kesepakatan ekonomi baru diperkirakan menjadi bagian penting dalam upaya stabilisasi hubungan bilateral. Kedua negara memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia secara keseluruhan. Karena itu, perkembangan hubungan dagang mereka selalu mendapat perhatian internasional.
“Baca Juga: TikTok Uji Coba Paket Premium Tanpa Iklan”
Amerika Serikat juga terus berupaya membuka dialog dengan China mengenai pengendalian senjata nuklir. Namun, Beijing masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap pembahasan tersebut. Pemerintah China disebut belum tertarik membahas pengurangan persenjataan nuklir saat ini.
Menurut pejabat AS, China secara pribadi menyampaikan penolakan terhadap pembicaraan pengendalian senjata. Beijing menilai isu tersebut belum menjadi prioritas dalam hubungan bilateral saat ini. Perbedaan pandangan itu diperkirakan tetap menjadi tantangan diplomatik utama.
Pertemuan terakhir Trump dan Xi Jinping sebelumnya berlangsung di Korea Selatan pada Oktober lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat menghentikan sementara perang dagang mereka. Kesepakatan itu membantu meredakan tekanan ekonomi global untuk sementara waktu.
Kunjungan Trump ke China kali ini dipandang sebagai momentum penting hubungan kedua negara. Banyak pihak berharap pertemuan tersebut dapat membuka ruang komunikasi lebih stabil antara Washington dan Beijing. Namun, perbedaan kepentingan strategis diperkirakan tetap membayangi hubungan kedua negara ke depan.