
Trump Klaim China Akses Data Pemilih AS Secara Ilegal
Isi cerita – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh China memperoleh akses secara ilegal terhadap data pemilih di negaranya. Tuduhan tersebut disampaikan dalam pidato yang juga menyoroti keamanan infrastruktur pemilu Amerika Serikat. Trump mengklaim telah mendeklasifikasi dokumen intelijen yang disebut mengungkap berbagai kerentanan dalam sistem pemilihan. Namun, dalam pernyataannya ia tidak memaparkan bukti rinci yang mendukung tuduhan tersebut.
“Baca Juga: Trump Sebut AS Menang Besar dalam Konflik Iran”
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa China memperoleh sejumlah besar informasi mengenai pemilih Amerika Serikat. Menurutnya, akses tersebut dilakukan secara ilegal dan melibatkan berbagai data pribadi.
Trump mengatakan informasi yang dimaksud mencakup nama, alamat, nomor telepon, afiliasi atau preferensi partai politik, serta data lain yang berkaitan dengan proses pendaftaran pemilih.
“Informasi itu mencakup nama, alamat, nomor telepon, preferensi partai politik, dan data sensitif lainnya yang dibutuhkan untuk mendaftar sebagai pemilih dan terlibat dalam aktivitas jahat lainnya. Dan itulah yang sebenarnya terjadi,” kata Trump.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan bagaimana data tersebut diperoleh maupun pihak yang bertanggung jawab atas dugaan akses ilegal tersebut.
Di Amerika Serikat, sebagian besar informasi dasar mengenai pemilih memang tersedia sebagai catatan publik di banyak negara bagian. Data tersebut umumnya dapat diakses sesuai aturan yang berlaku di masing-masing wilayah.
Namun, pernyataan Trump mengindikasikan bahwa terdapat informasi lain yang dinilai lebih sensitif dan berpotensi dimanfaatkan untuk tindakan yang melanggar hukum. Dalam pidatonya, ia tidak merinci jenis data tambahan yang dimaksud.
Isu keamanan data pemilih telah menjadi perhatian dalam beberapa pemilu terakhir di Amerika Serikat. Pemerintah federal maupun otoritas negara bagian secara berkala melakukan evaluasi terhadap sistem keamanan untuk mengurangi risiko penyalahgunaan data.
Meski terdapat data yang bersifat publik, pengelolaan informasi pemilih tetap berada di bawah regulasi yang berbeda di setiap negara bagian.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya telah mendeklasifikasi sejumlah dokumen intelijen. Dokumen tersebut, menurutnya, akan segera dipublikasikan kepada masyarakat.
“Malam ini, saya mengumumkan deklasifikasi dan rilis segera informasi intelijen penting, yang mengungkap kerentanan mengejutkan dalam infrastruktur pemilihan kita,” ujar Trump.
Ia menilai isi dokumen tersebut memperlihatkan bahwa sistem pemilu Amerika Serikat memiliki berbagai kelemahan yang perlu mendapat perhatian serius. Trump menyebut kerentanan itu dapat dimanfaatkan untuk melakukan peretasan maupun bentuk campur tangan asing lainnya.
Namun, dalam pidato tersebut tidak dijelaskan isi dokumen secara rinci ataupun temuan teknis yang menjadi dasar pernyataan tersebut.
“Baca Juga: Engine Crimson Desert Menang Penghargaan Teknikal”
Trump juga mengklaim bahwa informasi mengenai kelemahan sistem pemilu selama ini tidak diketahui publik. Menurutnya, berbagai temuan penting tersebut telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
“Yang lebih mengkhawatirkan lagi, informasi penting ini telah ditutupi dan disembunyikan dari Anda selama bertahun-tahun,” kata Trump.
Ia menegaskan bahwa sistem pemilihan Amerika Serikat dinilai masih rentan terhadap peretasan, eksploitasi, dan campur tangan dari pihak asing. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritiknya terhadap pengelolaan keamanan pemilu.
Hingga saat ini, Trump belum memaparkan bukti terperinci dalam pidatonya terkait tuduhan bahwa China memperoleh akses ilegal terhadap data pemilih. Sementara itu, publik masih menunggu rincian dokumen intelijen yang disebut telah dideklasifikasi serta penjelasan lebih lanjut mengenai temuan yang diklaim menunjukkan adanya kerentanan dalam sistem pemilu Amerika Serikat.